Wayan Supadno.
"Jika produk anda disukai orang tua tapi dibenci anak muda pertanda produk anda akan punah tidak punya masa depan " itu ujar Pakar/Praktisi Legendaris bidang pemasaran Bp Hermawan Kartajaya. Dalam hati saya itu pasti berlaku juga terhadap minat kepada sebuah profesi, termasuk profesi petani.
Sekitar 5 tahun silam, pertama kali saya mengenal medsos/Wa lalu diikutkan jadi member group pertanian. Beberapa kali saya jadi sasaran empuk cemooh member lain termasuk Tenaga Ahli Menteri Pertanian. Hanya karena tulisan saya yang bernuansa kritis bahwa Indonesia kekurangan petani muda. Harus sesegera mungkin ada upaya khusus proses regenerasi.
Anggapan member lain sesuai teori buku yang mendunia bahwa setiap kali ada negara sedang proses kemajuan slalu dibarengi pengurangan jumlah petaninya. Bahkan Taiwan, Jepang dan Amerika Serikat jumlah petaninya di bawah 10%. Di Indonesia masih 34%. Tapi data BPS hasil sensus pertanian terakhir jumlah petani muda kita hanya 12%. Sesungguhnya data ini peringatan keras agar kita lebih antisipatif.
Lalu saya juga masih dianggap gila oleh member lainnya, komentarnya sangat pedas karena seolah saya mengajak anak - anak muda untuk hidup kalah dan jadi miskin karena mereka saya ajak bertani. Buktinya penerima bantuan raskin terbanyak justru keluarga petani pangan. Itu ujarnya. Saya hanya bisa membantah bahwa petani yang dimaksud pasti adalah petani yang belum inovatif dan berlahan sempit. Beda dengan petani inovatif ekspansif berjiwa wirausaha.
Ternyata sekarang makin banyak bahkan meluas ke seluruh negeri. Seakan semua menyadarkan anak muda betapa pentingnya bertani inovatif ekspansif. Bahkan mulai terlihat hasilnya anak muda justru makin tampil di depan dan beda. Minat kuliah di Fakultas Pertanian makin naik tajam. Banyak yang sukses dari mulai on farm hingga off farm termasuk ekspor. Ini wajib kita syukuri dan didukung. Membanggakan.
Sesungguhnya kita kekurangan investor pertanian jumlah sangat banyak dan nilai investasi sangat besar. Pernah saya hitung jika mau nol impor semua pangan setara harus ada investasi sebanyak Rp 1.800 trilyun. Sehingga harus melibatkan banyak swasta utamanya yang muda. Tak cukup APBN/APBD.
Gambaran umum saja, jika benar kita masih ;
1. Impor beras 2,5 juta ton berarti harus diperluas menanam padi 1,1 juta ha lagi.
2. Impor gula 6,8 juta ton setara harus ada perluasan menanam tebu 1,5 juta ha lagi beserta pabrik gulanya.
Masih banyak sekali. Di antaranya kedelai, sapi, tapeoka/singkong dan lainnya.
Semoga bermanfaat..
Salam Inovatif Ekspansif 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
Artikel i wayan supadno
Komentar
Posting Komentar